Halo, Pacar Lama!

Halo, Pacar Lama!

Bertemu mantan pacar secara tidak sengaja di reuni atau jejaring sosial setelah lama tidak terkoneksi mungkin rasanya campur sari. Antara senang, sedih, merasa konyol–atau bahkan terbahak-bahak mengenang kisah yang sudah lewat. Cerita-cerita seputar masa lalu pun bergulir, dan di satu titik mendekatkan kita dan dia kembali. Bukannya nggak mungkin, bila ternyata ide “jadian” lagi terbersit di benak kita dan si mantan pacar. Wajar, kok. Yang penting, tanyakan beberapa hal ini kepada diri kita sendiri sebelum mengibarkan bendera “selamat datang” kembali.

Koneksi Dulu dan Kini

Peraturan No. 1, jangan pernah berkomitmen terhadap seseorang dengan harapan bahwa orang tersebut akan memenuhi apa yang kita butuhkan dan inginkan. Apakah kita berada ada level komunikasi, gaya hidup dan visi akan masa depan yang sama? Mentang-mentang pernah pacaran, bukan berarti dia atau kita tidak berubah sama sekali. Pertanyaannya, bisa kita dan dia saling menyeimbangi?

Amati Konten Percakapan

Apakah kita lebih banyak membahas dan terkenang-kenang akan masa lalu atau saling bertukar informasi mengenai kondisi sekarang, cita-cita, rencana hidup dan lain sebagainya? Apakah kita “menemukan” diri kita dalam setiap obrolan? Misalnya, walau tidak bekerja di bidang ekonomi sepertinya, akan tetapi pembicaraan mengenai keuangan atau reksadana menarik hati kita. Atau walau memiliki genre film yang berbeda, namun kita bisa berbagi soal film-film dari sutradara favorit kita. Ingin memiliki hubungan yang “panjang umur”, saling menstimulasi otak itu penting!

Rencanaku, Rencanamu

Bertemu mantan pacar

Mengetahui rencana dan visi hidup sayu sama lain itu penting. Apakah kita berencana menghabiskan setiap bonus atau kenaikan gaji dengan melakukan traveling sebanyak-banyaknya? Urusan memiliki properti atau kendaraan belum menjadi prioritas kita karena kita berpikir hidup terlalu seri untuk dilewatkan dan dibebani “hutang” setiap bulan. bagaimana bila ternyata dia sangat ketat dalam mengatur pengeluaarannya–memiliki rumah dan deposito adalah keharusan, dan traveling bisa dilakukan saat segala sesuatu sudah mapan. Bagaimana kita bertemu di titik kompromi dari perbedaan sudut pandang tersebut?

Pertanyaan Kebersamaan

Hal ini sering luput dari perhatian, padahal penting. Bagaimana kita memandang kebersamaan? Apakah melakukan aktivitas sendiri-sendiri jadi masalah bagi kita dan dia. Apakah dalam kebersamaan yang kelak terjalin, kita masih bisa menemukan waktu berkualitas untuk diri sendiri. Apakah kebersamaan kita dengan dia kelak akan mengeluarkan semua potensi terbaik kita?

Berdamai Dengan Masa Lalu

Ini yang paling penting. We broke up for a reason, didn’t we? Apakah semua masalah dan perbedaan meruncing di masa lalu telah berhasil kita lewati atau temukan titik komprominya? Atau kalau mau jujur, ada beberapa hal yang sebenarnya tidak pernah selesai di antara kita dan dia? Bila kita ingin hubungan kedua kalinya (atau lebih?) ini sungguh-sungguh berhasil, jangan lupa masukkan hal ini dalam agenda pembahasan ya.

Questions About Love

Pertanyaan soal cinta dan hubungan berikut sering menggelitik pikiran kita. wajar, tidak wajar, boleh atau justru tabu? Apa saja?

Menjaga hubungan dengan mantan – dan bersikap seolah-olah masih pacaran.Menjaga hubungan baik boleh-boleh saja, bagaimanapun juga kita pernah berbagi perasaan dengannya. Akan tetapi tetap bersikap seperti masih pacaran? It’s a big no! “Hal ini akan tidak adil bagi salah satu pihak, terutama bila dia/kita sedang berusaha move on atau membina hubungan baru dengan orang lain,” jelas Nina Sunarwirawan, psikolog. Jaga jarak yang sehat dengan mantan dan hargai diri kita sendiri (dan keputusan yang pernah dibuat). Kita putus karena satu alasan bukan?

Tetap berteman di jejaring sosial dengan si mantan? Perlu kebesaran hati untuk terus menerima ‘updates’ dari si dia—mulai dari pacar baru, foto pre-wedding sampai saat mereka menikah kelak! Pertimbangkan juga perasaan pasangan kita atau dia bila mengetahui kita masih saling terhubung dan mungkin saja masih ‘mengecek’ satu sama lain. Merasa risih memutuskan hubungan begitu saja—apalagi jika kita putus baik-baik? “Tidak salah kok, mengirim pesan kepada mantan bahwa kita butuh ‘off’ sementara waktu. Hal ini justru akan menjaga perasaan keduabelah pihak,” jelas Nina.

Menetapkan deadline hubungan. Maunya sih, saat pacaran dan merasa cocok, hubungan kita bergerak ke jenjang yang lebih serius. Bahkan dalam hati diam-diam kita menetapkan target kapan bertunangan atau melaju ke jenjang pernikahan. Wajarkah? “Tentu saja. Bersikap saling terbuka dan menyampaikan hasrat dan keinginan masing-masing itu penting loh dalam hubungan,” ujar Nina, “dengan mengetahui tujuan dan arah hubungan, kita dan pasangan bisa lebih mempersiapkannya dengan matang. Misalnya menabung untuk menikah, atau mulai mencicil rumah bahkan saat harus menunda bila salah satu hendak melanjutkan studi terlebih dahulu.”

Menulis di blog tentang kisah percintaan kita? Dia yang baik, pengertian, sukses di karier, perhatian dan selalu membuat perasaan kita berbunga-bunga, so yes dunia harus tahu! Tunggu dulu, berbagi informasi terlalu banyak juga bisa memengaruhi hubungan kita. Menurut Nina, menulis di blog tanpa saringan, sama saja seperti curhat terhadap orang yang salah. Akan ada banyak opini yang berkembang—dan bisa memengaruhi sikap kita dalam berhubungan. Masih ingin menulis soal hubungan kita dengan si dia? Tuliskan saja pengalaman seru saat liburan bersama yang dilengkapi dengan foto-foto seru, atau kehebohan ‘behind the scene’ di dapur saat kita dan pasangan sedang mempraktikkan resep baru untuk makan malam romantis. Jauh lebih seru, kan?